Pelayanan Customer Service ACER
Setelah sudah lama tidak bercoding di notebook, aku baru menyadari bahwa notebookku, drop!
Tidak ada tampilan dilayar sesaat proses boot-ing. Huff disaat urgent persiapan thesis, baru sadar apa itu pentingnya notebook. Tanpa pikir panjang, gimana tuh caranya agar notebook bisa hidup seperti semula, mana data-data kuliah semua ada di sana. Awalnya notebookku yang merek Acer ini, ku bawa ke Service Centre Acer di Yogyakarta, tepatnya di ruko Case Grande. Setelah beberapa hari di analisa, ternyata si notebook ngambek ingin ganti MainBoard baru, begitu ulasan dari Customer Servicenya. Yah, masih dalam batas wajar menurutku, apalagi usianya sudah mendekati 3 tahun, wajar kalo sudah saatnya penggantian sparepart baru. Akhirnya dengan kesepakatan diatas kertas, notebookku berganti MainBoard dengan biaya yang tidak cukup sedikit, sekitar 2 juta lebih sudah termasuk Service Charge + PPN.
Selang beberapa hari, aku ditelpon oleh pihak Acer, bahwa Notebook sudah kembali normal dan bisa diambil, dengan pelayanan yang ramah kemudian aku pun tersenyum balik kepada Customer Service yang lupa kusebut namanya.

Setelah si notebook sudah kembali ke rumah, aku mencoba bercoding sambil menunggu waktu sahur, sampe subuh si notebook masih dalam keadaan OK, tidak ngambek dan tidak ada keluhan namun aku baru menyadari bahwa touchpad tidak berfungsi, karena aku memakai mouse sebelumnya, akhirnya esoknya aku bawa kembali notebook ke service center dan untungnya saat itu masih ada waktu masa garansi 14 hari service, hahhh ,, selamet deh uang. huff 2 juta mennnnn ![]()
Hari ketiga si notebook kembali, dari service center, tiba – tiba layar mati setelah boot-ing dan tidak berfungsi sama seperti kasus sebelumnya, wah udah panas dingin badanku, what happen??? Muka Devil-ku udah keluar, geram, perasaaan campur aduk, uang udah muepet, hedeeh gimana ini ahh .. Akhirnya dengan muka “jutek” aku datangi customer service dan komplain dengan apa yang terjadi. Beruntungnya saat itu masih ada garansi 30 hari penggantian spare part baru, wuuuh selamat lagi, tapi bagaimana jika aku baru mengetahui setelah lebih 30 hari?? wah cari pesangon dari mana lagi buat nutup service ini?
Dengan muka bete, aku ngomel, “Maaf ya mbak/mas, ko bisa ya setelah penggantian MainBoard baru ini saya mengalami kasus yang sama dengan kemaren, sebenarnya ini diganti baru atau hanya second MainBoard? saya bayar cukup mahal dengan penggantian ini, lalu bagaimana jika saya baru menyadari setelah > 30 hari, sebagai customer saya merasa keberatan..” Ughhh
untungnya ruangan Service Centre tersebut ber-AC boo.. coba kalo nggak, udah puasa, panas, aus, laper, emosi, uang mepet .. pokoknya ga mau tahu gimana caranya tuh notebook bisa normal lagi!. Akhirnya aku dijelasin panjang lebar .. bla bla bla yang aku sendiri tahu ah itu cuma ngadem-ngademin
maaf deh ga mempan yang penting bener lagi. Titik.
Sampe akhirnya mas disebelah, ikut nimbrung, “kalo ada kerusakan dalam komponen MainBoard, maka harus ganti mbak, karena ini satu kesatuan, bahkan semua saling terhubung”. Mbaknya juga nimbrung lagi, “iya mbak, mainboard kan berhubungan juga dengan port USB” .. ** tuing tuing
** sebenarnya jawabannya, bukan itu yang aku ingin. Kalo memang benar seperti itu dalam sebuah MainBoard, kan katanya kemaren udah diganti dengan yang baru? So, loh kok gini lagiii?? Oke cing aku bayar, Oke broo gw ganti tuh MainBoard tapi kenape mati lagi? itu pertanyaan saya mbak yu! Capee deee … ![]()
Akhirnya, aku ikhlaskan si notebook dicek kembali
meskipun sebenarnya aku agak gimana gitu perasaannya .. takut kalo sampe dengan alasan bla bla harus ganti dengan yang baru. Selang beberapa hari aku dapat telpon dari Customer Service “Maaf, dengan … Notebook sudah bisa normal, diganti dengan MainBoard baru, karena masa garansi service belum habis maka ini dinyatakan free, dan hanya bayar service charge” .. ah udah lega nih ati.. akhirnya selamat deh tuh notebook, terus selang beberapa menit si Customer Service ngomong lagi, “Maaf, tapi keyboard tidak berfungsi sehingga harus penggantian sparepart baru agar bisa berfungsi seperti semula, dengan biaya 600 ribu rupiah”. ehh eeehhhh ehhhh maen maen ama gw cing! aku tetep keukeuh lha wong datang si keyboard bisa buat ngoding kok, setelah masuk jadi error? pokoknya aku ga mau dibenerin lagi, masa bodoh deh mau keyboard rusak, intinya aku ga mau ada penambahan biaya lagi. Akhirnya aku jawab, “udahlah gini aja, mending aku ngomong ama teknisinya aja, lebih jelas ya!” Akhirnya si Customer Service mengalah, dan berhenti menawarkan, say godbye lah. EGP, Emang Gw Pikirin, yang ada diotak cuma pengen tuh notebook normal!
Hari terakhir masa service, aku datang untuk mengambil notebook, muka udah keluar tanduk, mulut udah gatell ngomel
akhirnya si Customer Service minta aku menunggu, dan mengatakan akan diketemukan dengan teknisinya ![]()
Oke, selang beberapa menit si Om yang kukira teknisi datang dengan style yang berbeda dengan yang lain, wajah lebih bersahabat, ramah, dan membaca keluhanku. “Selamat Siang Mbak, silahkan duduk, sambil menawarkan tangan kanannya untuk bersalaman terlebih dulu, (#Point + 1), maaf mbak jadi gini, kemaren udah ditelpon yah sama Customer Service katanya harus ada penggantian keyboard baru? (#Point + 2) Lalu aku jawab “Iya mas, kemaren masuk sini, keyboard ga ada masalah” si Om , tersenyum ramah (#Point + 3), “Iya jadi gini, kemaren saya juga denger sendiri pembicaraan mbaknya dengan pihak kami, intinya ga mau diganti karena awalnya baik2 aja, dan sempat ingin bertemu dengan teknisinya aja? biasanya pake laptop untuk apa?” (#Point + 4) aku jawab lagi “Iya mas cuma buat coding aja, selebihnya jarang, lebih baik saya bicara dengan teknisi nya aja, sebenarnya notebook saya kenapa? lalu kenapa permasalahannya sama lagi? kalo dengan teknisinya saya lebih bisa menjaga kira2 hal apa yang membuat kerusakan seperti itu?”, si Om senyum lagi .. (#Point + 5) “Iyah, kebetulan teknisi sedang banyak kerjaan, jadi saya yang menangani langsung, kemaren begitu saya dengar keluhan Mbak, saya langsung datangin dan ambil notebooknya, dan cek lagi permasalahannya, setelah saya cek sendiri dan berulang kali diteliti tenyata ada pemasangan yang kurang pas dikiiit, makanya keyboard jadi ga berfungsi.” (#Point + 6) Tanduk devil-ku ilang satu, “Oh, jadi udah bener mas? ga ada masalah lagi? dan tidak ada penggantian kan?” si Om tersenyum lagi, “Benar sekali, notebook anda sudah benar, bahkan aku sudah cek berulang kali, tidak ada masalah serius, kesalahan ada pada teknisi kami, mungkin kurang pas
” (#Point + 7) Aku pun balas dengan senyum ramah dan puas dengan penjelasan si Om yang bersahabat itu, kalo begini aku juga sama sama menyadari, tanpa mau menyalahkan lagi. Si Om, meminta aku untuk mencoba, kemudian diselangi pertanyaan yang diluar masalah notebook. “Sudah berapa kali ganti Notebook?” (#Point + 8) aku jawab “ini notebook pertamaku mas” . si Om tertawa kecil, “Owh begitu, setia juga ya, ..” (#Point + 9 ) Aku balas dengan senyum persahabatan, akhirnya setelah invoice aku terima dan pembayaran service charge selesai. aku mengucapkan banyak terima kasih atas pelayanan Acer yang dapat memuaskan pelanggan. Sebelum pulang, aku sempat minta menanyakan namanya “Chris” panggilan akrabnya, dan aku pulang dengan rasa puas. Dan saya belajar banyak dari si Om itu, kepuasan pelanggan diatas segalanya, berharap Super Customer Service perusahaan di Indonesia, mau terjun langsung ke lapangan untuk membesarkan dan memberikan kepuasaan kepada pelanggannya.
Terima kasih Service Centre Acer Yogyakarta, sukses selalu!

“Tim Customer Service Harus di isi oleh Orang-Orang yang berkualitas dengan karakter yang melayani, bukan dengan karakter yang minta dilayani” – Djanendra


