Memikirkan pilihan hidup
Sempat berkunjung ke blog mba thea, yang menceritakan gimana dia akan memulai bisnis online dirumah dengan suami. Aku jadi berkaca dengan diriku sendiri, aku rasa sebagian wanita akan berpikir yang sama dengannya. Meluangkan banyak waktu dengan suami tercinta dirumah itu hal yang sangat berharga dan bernilai ibadah dibandingkan dengan mengeluarkan waktu diluar untuk bekerja. Tetapi banyak dari teman- temanku yang tidak bekerja namun sudah menikah akhirnya mereka jenuh dengan rutinitas sehari-hari mengurus rumah tangga. Benarkah yang mereka rasakan? jenuh dan membosankan?? (I dont know!!)
Ketika media banyak membicarakan perceraian rumah tangga selebritis, kasus mereka adalah sama sindrom naik daun dan jarang waktu untuk keluarga adalah penyebab utama perceraian. Salah satu pasangan merasa tidak diperhatikan.. dan lebih banyak waktu diluar dengan orang lain. Wajar jika banyak orang yang memutuskan untuk berpisah dari pada harus selalu makan hati karena kurang kasih sayang untuk keluarga. Saling egois dan mempertahankan apa yang ada, tidak memikirkan kebahagiaan pasangan.
Dari dua option diatas, jalan manakah yang harus aku pilih nanti?? menjadi seorang ibu rumah tangga atau menjadi wanita pekerja? Jika memilih untuk ibu rumah tangga, harus menerima konsekuensi apapun kegiatan semua terasa dibatasi. Tidak memiliki banyak teman seperti saat bekerja, pengalaman juga semakin berkurang, bahkan keuangan harus ada aliran dana. Owhhh (siapkah aku ??). Sedangkan untuk menjadi wanita pekerja, aku harus meluangkan waktu di luar, jam keluarga terasa dibatasi dari pagi hingga sore kita berelasi dengan banyak orang, namun rumah tangga terbengkalai tapi ada juga banyak sisi positif aku memiliki banyak teman, pengalaman, pelajaran diluar dan mengurangi negative thingking dengan suami
(suami aja belum punya
)
Hanya Tuhan yang tahu sampe titik mana aku bertahan. Bukankah takdir di ujung usaha manusia?.